Outer Worlds
Ulasan The Outer Worlds : Saat Cerita serta Visualisasi Tidak Cukup Penuhi Harapan

Ulasan The Outer Worlds : Saat Cerita serta Visualisasi Tidak Cukup Penuhi Harapan

Posted on

Ulasan The Outer Worlds : Saat Cerita serta Visualisasi Tidak Cukup Penuhi Harapan. Obsidian. Buat yang menyukai dengan game-game PC memiliki bobot dari sisi kemampuan serta kekayaan cerita, Anda harusnya tidak asing dengan nama barusan. Star Wars : Knights of the Old Republic 2 (2004), Neverwinter Nights 2 (2006), Fallout : New Vegas (2010), South Park : Stick of Truth (2014), Pillars of Eternity (2015), Tyranny (2016), serta Pillars of Eternity 2 : Deadfire (2018) ialah beberapa game-game legendaris garapan Obsidian.

Sebelum kita masuk ke ulasan The Outer Worlds kesempatan ini, jujur saja saya sebutkan diawalnya, saya ialah fans fanatik dari game-game Obsidian. 7 game yang saya katakan barusan, saya telah mengakhirinya semua. Saya serta pernah tuliskan ulasan Tyranny serta PoE2 : Deadfire di website pribadi saya sekian tahun yang lalu. Mengapa saya senang dengan Obsidian? Ada 3 fakta besar yang membuat game-game Obsidian tetap wajar dimainkan.

Screenshot The Outer Worlds

Pertama, kemampuan plot narasi, penyajiannya, karakter karakter-karakter didalamnya serta semua jenis faktor kemampuan cerita dari tiap game Obsidian salah satu yang paling baik selama pengalaman saya bermain game dari tahun 1997 serta kerja pada media game semenjak 2008.

Ke-2, tentunya gameplay jadi komponen yang penting untuk saya. Karena itu, umumnya, saya kurang senang dengan game-game ber-genre interactive visual novel seperti game-game garapan Telltale Games. Saya memang menyenangi gameplay yang memberi kepuasan serta kompleks untuk dipelajari dan itu yang tetap disuguhi dari tiap game-game Obsidian.

Unsur ke-3 salah satu unsur paling besar yang memperbedakan game PC dengan game-game dari basis yang lain, yakni game modding. Buat Anda yang tidak paham apakah itu game modding, ada tulisan dari NVIDIA yang cukup komplet untuk menerangkan masalah game modding.

Mengapa saya menerangkan 3 unsur ini terlebih dulu sebelum saya masuk ke penilaian tiap faktor? Sebab sayangnya, di game ini, Obsidian cuma dapat menyuguhkan 2 dari 3 unsur tadi…

Paling akhir, sebelum kita masuk ke tiap sisi, saya mainkan game ini di PC serta berikut detail PC yang saya pakai (sekaligus ekspos wkwkwakwka…) :

CPU : AMD Ryzen 5 3600
Motherboard : GIGABYTE AB-350 Gaming 3
Kartu Grafis : Palit GeForce RTX 2070 Super JS
Memory : G Kemampuan 16GB 3200MHz (running @3800MHz).
Storage : ADATA SX8200 PCIe SSD 1TB
Monitor : ASUS VG258QR (@144Hz)

Visualisasi Grafis serta Audio : 94/100

Bila Anda kangen dengan game-game jenis seri Fallout kekinian, Anda kemungkinan perlu hindari Fallout 76. Untungnya, The Outer Worlds (TOW) dapat menyembuhkan kangen Anda barusan. Visualisasi dari TOW tawarkan atmosfir yang tidak jauh tidak sama yang umumnya disuguhi di seri Fallout (Fallout 3, New Vegas, serta Fallout 4). Akan tetapi, TOW menyediakan grafis dengan saturasi semakin tinggi daripada Fallout.

Kecuali grafisnya yang dapat tawarkan atmosfir yang immersive, unsur suara serta voice acting di TOW wajar dapat acungan jempol. Buat saya, unsur penyajian audio serta visual yang spesial itu tidak cuma enak dilihat serta menganakemaskan telinga tetapi dapat memberikan dukungan kemampuan imersifitas atmosfir dunia serta narasi yang disuguhi. Obsidian dapat menyuguhkannya dengan prima di game ini.

Walau memberi visualisasi yang ciamik, game ini pun tidak berat dari bagian performnya. Dengan detail PC saya di atas, saya tidak kesusahan benar-benar untuk sentuh rata-rata 90-120 fps. Kawan saya, Glenn Kaonang yang penulis untuk DailySocial serta Hybrid, masih tetap lancar mainkan game ini (60 fps) di seting grafis Medium walau masih memakai kartu grafis GeForce GTX 960.

Plot Narasi serta Ciri-ciri : 81/100

Sama yang saya tulis barusan, kemampuan cerita salah satu keunggulan dari tiap game-game Obsidian. Faktor ini masih tetap dapat Anda peroleh di TOW. Lore building di TOW benar-benar hampir prima. Sayangnya, game ini belum juga dapat tawarkan dunia yang sekompleks seri Pillars of Eternity (PoE). Demikian pula masalah jalan ceritanya. Bila dibanding dengan seri PoE (baik 1 serta 2), jalan cerita di TOW semakin gampang ditebak — minimal untuk saya pribadi. Untungnya, kelebihan dari faktor narasi di TOW berada di penyajiannya yang semakin menarik daripada seri PoE barusan.

Saya anggap plus serta minus barusan sebab memang jenis yang lain di antara TOW serta seri PoE. Seri PoE ber-genre cRPG yang memanglah bukan untuk kesemua orang tetapi, umumnya, dapat membuat dunia yang demikian mendalam melalui jumlahnya wall-of-text di game-nya. Sedang TOW semakin seperti dengan seri Fallout kekinian atau The Witcher (action RPG) yang semakin ramah untuk golongan mainstream sebab menyediakan narasi melalui cut-scene serta diskusi antar ciri-ciri.

Impresi Yang Unik

Dari bagian karakter-karakternya, TOW juga menarik. Tidak ada ciri-ciri yang serba prima di sini yang dapat jalankan semua Dasa Dharma Pramuka dalam tiap langkah hidupnya. Tiap ciri-ciri Companion (NPC yang temani serta masuk di team Anda) dapat memberi impresi yang unik bagi beberapa pemainnya. Beberapa karakter-karakter juga penting mempunyai karakter yang berlainan.

TOW juga mempunyai beberapa jalan cerita bergantung dari pilihan Anda. Sayangnya, sebab gampang ditebak serta dipikirkan, saya jadi malas bermain campaign baru untuk yang ke-2 kalinya untuk coba jalan cerita yang lain. Balik lagi, bila saya banding di dalam bermain Deadfire, saya serta menamatkan game itu semakin dari 5 kali cuma untuk coba jalan cerita yang berlainan.

Satu hal yang tentu, bila dibanding dengan seri PoE, TOW memang inferior. Tetapi faktor ini sebetulnya sangat baik serta superior bila dibanding game-game yang lain yang dikeluarkan akhir-akhir ini. Namun, sebab game ini garapan Obsidian, saya jadi punyai harapan yang semakin tinggi.

Gameplay 70/100

Beberapa pemain Fallout kekinian tentu tahu yang namanya VATS yang mengizinkan Anda hentikan waktu serta mengincar beberapa bagian lawan yang detil (kepala, tangan, tubuh, ekor, dkk. ). Feature sama dapat juga Anda dapatkan di sini. Anda dapat memakai kemampuan slow motion supaya lawan bergerak perlahan hingga Anda dapat semakin tepat dalam mengincar musuh.

Companion Anda pun punyai active ability semasing yang dapat dikeluarkan dengan mendesak tombol. Sayangnya, active ability yang dipunyai oleh ciri-ciri Anda sedikit — cuma ada slow motion barusan serta dodge. Untungnya, ciri-ciri Anda dapat memakai beberapa senjata yang cukup variasi prosesnya walau memang semakin lebih terbatas bila dibanding dengan Borderlands 3. Anda dapat juga memakai senjata melee yang punyai beberapa macam gempuran.

Di sini ada juga proses stealth yang dapat Anda pakai. Sayangnya, bila dibanding dengan Skyrim atau seri Dishonored, proses stealth di sini kurang memberi kepuasan.

Oh ya, di sini, equipment Anda pun mempunyai efek-efek pasif yang dapat mengganti style bermain Anda. Sayangnya, kembali lagi, ini tidak dilaksanakan dengan maksimal. Masalahnya beberapa efek dari equipment di sini benar-benar terbatas variasinya. Semakin banyak beberapa efek pasif yang menjemukan seperti meningkatkan posisi (Lockpick +10, Diskusi +5, atau stats yang lain). Jumlah macam beberapa efek build di sini serta semakin sedikit bila dibanding dengan Assassin’s Creed Odyssey.

Entahlah, menurut saya, Obsidian kebanyakan penerapan inspirasi gameplay di TOW tetapi eksekusinya seperti 1/2 hati. Contohnya saja bila dibanding dengan Borderlands 3 (BL3). BL3 memang tidak ada proses stealth. Tetapi dia punyai kekayaan macam dampak dari equipment (seperti Cooldown Reduction, Accuracy, Handling, Fire rate, AoE radius, serta yang lain) yang serta sampai beberapa puluh dampak. Doom Eternal pun tidak punyai skema Companion, macam build seperti RPG, atau proses Stealth tetapi game ini benar-benar superior dalam penerapan pertempurannya.

Feature Penambahan serta Waktu Permainan : 20/100

Bila faktor gameplay dari TOW kurang optimal, masih ada lagi faktor yang memilukan dari game ini. Waktu permainannya yang benar-benar pendek buat jenis RPG. Waktu saya mainkan game ini sesudah menamatkannya tertera di EGS (Epic Game Store) cuma 37 jam. Ditambah lagi, game ini pun tidak tawarkan banyak kesibukan seperti game-game open world jenis seri Assassin’s Creed atau GTA. HowLongToBeat serta menulis angka rerata waktu permainan di TOW cuma 25 jam dengan waktu Main Story saja sebesar 12 jam.

Waktu permainan sebetulnya dapat jadi penting atau mungkin tidak penting dari satu game. Contohnya saja, Mad Max memang tawarkan banyak kesibukan open world seperti seri Far Cry, Just Cause, atau yang lain. Tetapi saya sendiri berasa jemu serta tidak mempunyai kemauan untuk lakukan semua. Catatan waktu saya bermain Mad Max di Steam hanya 41 jam. Jujur saja, kemungkinan memang saya belum senang bermain TOW tetapi saya kehabisan content yang dapat dilaksanakan — mengingat saya tidak ingin jalankan campaign baru sebab bisa dipikirkan ceritanya.

Disamping itu, dari 3 faktor yang saya senang dari Obsidian, faktor modding tidak berada di sini. Ini kebalikannya dengan PoE2 : Deadfire. Bila tidak yakin, melihat saja di NexusMods. Outer Worlds cuma mempunyai 46 file, itu juga sejumlah besar hanya template ReShade. Sedang PoE2 : Deadfire punyai 348 file dengan cuma 2 file di kelompok ReShade & ENB. Benar-benar, TOW benar-benar memilukan dari bagian game modding, mengingat Deadfire ialah game sebelum TOW dari Obsidian. Modding di Deadfire serta benar-benar gampang dilaksanakan. Saya awalnya pernah tuliskan tutorialnya. Obsidian sendiri serta memberi dokumentasi modding untuk Deadfire.

Saya ketahui modding kemungkinan bukan unsur penentu buat sejumlah besar game tetapi, untuk saya pribadi, ada 3 fakta subyektif mengapa hal ini menjadi penting saya ulas di ulasan The Outer Worlds kesempatan ini.

Game-Game Obsidian

Pertama, harapan saya atas game-game Obsidian itu ramah pada komune game modding. Dari 7 game yang saya ucap dibagian awal artikel ini, cuma Tyranny yang tidak ramah pada game modding. Serta Stick of Truth punyai 90 files di Nexus Mods. Saya tidak paham apa ini ada hubungan atau mungkin tidak, tetapi penting diketahui jika Obsidian diakuisisi oleh Microsoft di 2018. Kabarnya tampil di bulan November 2018.

Sedang Deadfire dikeluarkan bulan Mei 2018 yang bermakna, peluang besarnya, Obsidian belum diakuisisi waktu proses membuatnya yang diawali semenjak 2016 serta memperoleh keseluruhan investasi melalui campaign crowdfunding-nya di 2017. Satu kali lagi, saya pun tidak percaya apa akuisisi barusan yang menjadi pemicunya. Ditambah lagi mengingat Minecraft (Mojang) serta State of Decay (Undead Labs), yang di bawah Microsoft, cukup ramah pada komune modding. Tetapi satu hal yang tentu, ketidaksamaan paling besar (minimal yang kelihatan) dari Obsidian waktu membuat TOW serta game-game awalnya ialah akuisisi Microsoft barusan.

Game Singleplayer

Ke-2, game modding membuat game singleplayer jadi dapat dimainkan dalam tempo yang benar-benar lama. Untuk perbandingan, saya telah mainkan Deadfire semasa 517 jam (berdasarkan catatan dari Steam) sedang untuk TOW cuma 37 jam sama yang saya catat barusan. Walau memang waktu bermain yang singkat ini dikuasai oleh kekurangan content serta macam jalan cerita yang tidak sekompleks Deadfire, saya dapat memikirkan bila saya akan bermain game ini jauh semakin lama bila akses modding-nya segampang seri Fallout kekinian (terkecuali Fallout 76 tentu saja).

Ke-3, sama yang saya sebutkan barusan, faktanya benar-benar sangat subjektif ; sebab saya memang senang sekali merasai proses modding serta saya tidak dapat memperoleh itu dari TOW — yang umumnya saya peroleh dari game-game Obsidian. Saya benar-benar merindukan saat modding sama yang dahulu saya kerjakan di dalam bermain Deadfire, Fallout New Vegas, serta Neverwinter Nights 2 ; serta game-game yang bukan garapan Obsidian seperti, Skyrim, The Witcher 3, GTA San Andreas, atau yang lain-lainnya.

Average Skor : 66. 25/100

Pada akhirnya, bila Anda memang tidak perduli masalah modding, TOW benar-benar sangat wajar dimainkan. Ditambah lagi bila Anda tidak ada permasalahan dengan waktu bermain. Grafis serta narasi yang ditawarkannya benar-benar wajar dapat acungan jempol. Unsur gameplay-nya pun tidak dapat disebut jelek walau tidak spesial. Sayangnya, kemungkinan sebab saya yang telah punyai banyak masa lalu terkesan mainkan dan merasai asyiknya modding game-game Obsidian, TOW jadi berasa tidak dapat penuhi harapan.

Harga TOW waktu artikel ini dicatat berada di $44. 99 (seputar Rp660 beberapa ribu) di EGS. Apa jadi wajar dibeli? Saya sendiri berasa tidak menyesal membelinya sebab Obsidian nya yang seringkali temani saya serta memberi beberapa masa lalu manis — walau sedikit masam dengan TOW. Saya mengharap game setelah itu dari Obsidian dapat semakin sesuai harapan. Plus, mudah-mudahan riwayat Bioware tidak terulang lagi dengan Obsidian…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *